SALIRA TV | KOTA TASIKMALAYA, JAWA BARAT — Proyek irigasi perpompaan Tasikmalaya di Kelurahan Setiamulya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hingga Jumat, 14 Agustus 2026, pengerjaan proyek masih belum selesai karena pencairan anggaran tahap kedua belum diterima pihak pelaksana.
Kondisi tersebut menjadi perhatian petani setempat. Pasalnya, sawah di wilayah Setiamulya banyak mengandalkan curah hujan. Saat kondisi lahan mulai mengering, keberadaan sistem irigasi perpompaan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air tanaman padi.
Program tersebut merupakan bantuan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, BPLIP Kelas 1 Bandung. Proyek ini memiliki nilai anggaran sebesar Rp155,7 juta yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.
Irigasi Perpompaan Tasikmalaya Baru Mencapai 38 Meter
Ketua Kelompok Tani (Gapoktan) Saritani, Haris, menjelaskan bahwa pengerjaan tahap pertama telah dilakukan oleh UPKK Poktan Saritani selaku penerima manfaat sekaligus pelaksana swakelola.
Sesuai spesifikasi teknis, sumur bor untuk irigasi perpompaan tersebut direncanakan mencapai kedalaman 60 meter. Sumur itu nantinya diharapkan mampu mendukung pengairan lahan persawahan seluas sekitar 5 hektare.
Namun, proses pengeboran hingga kini baru mencapai kedalaman 38 meter.
“Pengerjaan tahap satu sudah dilaksanakan sesuai spesifikasi yang ditargetkan untuk tahap awal, tetapi belum selesai 100 persen. Saat ini baru mencapai kedalaman 38 meter dari target 60 meter. Pengeboran memang sudah mengeluarkan air menurut tukang bor, dan saat ini sedang proses pengesingan (pemasangan pipa casing). Namun kami belum menerima pencairan dana tahap kedua untuk melanjutkan pengerjaan hingga tuntas,” terang Haris saat ditemui di kediamannya, Jumat (14/8/2026).















