Kehadiran perwakilan generasi muda berprestasi, termasuk Mojang dan Jajaka daerah, turut memperkuat pesan bahwa isu kesetaraan Tuli harus menjadi bagian dari kepedulian sosial dan gaya hidup generasi masa kini.
Melalui peringatan Hari Tuli Nasional ini, Sahabat diingatkan bahwa setiap individu memiliki suara, meski tidak selalu terdengar oleh telinga. Suara itu hadir melalui tangan, ekspresi, dan keteguhan hati.
Komunitas Tuli berharap kegiatan ini menjadi langkah awal menuju aksi nyata, bukan sekadar diskusi. Dorongan agar regulasi aksesibilitas segera diterapkan di seluruh layanan publik terus menguat.
Dunia mungkin terasa sunyi bagi mereka, namun semangat untuk setara justru menggema paling lantang. Kini, pilihan ada di hadapan Sahabat semua, untuk mulai membuka ruang, memahami, dan belajar mendengar dengan hati.
Kontributor/Wartawan: Heri Heryanto









