Bunda Rahmawati menegaskan bahwa produk lokal harus kembali dihidupkan agar mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Ia kemudian membagikan pengalaman keberhasilan program serupa yang sebelumnya dijalankan di wilayah lain.
Kolaborasi ESDM dan Warga Dinilai Mampu Mendorong Kemandirian
Hj. Rahmawati menjelaskan bahwa pola kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, serta sektor energi pernah dilakukan sebelumnya di wilayah Kecamatan Lumbis Ogong.
Melalui sinergi tersebut, masyarakat memperoleh dukungan berupa sarana produksi hingga dukungan pasar bagi hasil kerajinan warga.
Model serupa kini diharapkan dapat diterapkan di Sungai Fatimah.
“Kita memiliki tangan-tangan terampil yang mampu menghasilkan karya luar biasa. Saya ingin suvenir Kalimantan Utara sepenuhnya lahir dari kreativitas masyarakat kita sendiri. Kita berhenti bergantung pada produk tetangga dan mulai menjadikan karya lokal sebagai tuan rumah di tanah sendiri.”
Ia juga menegaskan pentingnya membangun kekuatan ekonomi berbasis produk lokal.
“Kemandirian ekonomi bermula dari keberanian kita mencintai produk sendiri. Saya mendorong seluruh pihak untuk memperkuat rantai produksi kerajinan lokal. Ketika kita memborong karya warga, kita sedang menggerakkan ekonomi desa sekaligus merawat martabat daerah kita agar tidak lagi memandang produk negara lain sebagai pilihan utama.”
Listrik dan Ekonomi Lokal Dinilai Harus Tumbuh Bersama
Pertemuan yang berlangsung di Binusan menjadi gambaran bahwa pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur.
Ketersediaan listrik dinilai mampu membuka peluang usaha baru, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi desa.
Harapan masyarakat Sungai Fatimah kini bukan hanya mengenai akses energi, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh melalui kreativitas dan kemandirian ekonomi lokal.















